Mengubah Keterbatasan Kelas Menjadi Solusi Berdampak: Menumbuhkan Karakter Resourceful Murid Melalui Pembelajaran Mendalam (Praktik Baik Manajerial)

Mengubah Keterbatasan Kelas Menjadi Solusi Berdampak: Menumbuhkan Karakter Resourceful Murid Melalui Pembelajaran Mendalam
Judul Asli Penelitian: Kecakapan Memanfaatkan Sumber Daya (Resourcefulness) Murid melalui Implementasi Pendekatan Pembelajaran Mendalam pada Pembelajaran Tematik
Penulis: Mochamad Imam Sudibyo
SMA Insan Cendekia Mandiri Boarding School
(m.imam.sudibyo@gmail.com)
PENDAHULUAN
“Bu Guru, tugas praktikum saya belum selesai. Saya tidak bisa menganalisis hasilnya”
“Pak Guru, saya bingung mau menulis apa. Apakah ada contohnya”
Pernahkah kita mendengar ungkapan-ungkapan tersebut terlontar di ruang-ruang kelas kita? Atau bisa jadi, keluhan serupa kita jumpai di seluruh kelas kita setiap hari saat proses pembelajaran berlangsung? Sebagai pendidik, pemandangan seperti ini kerap kali membuat kita menghela nafas. Hal ini menggelitik sekaligus memprihatinkan. Ironinya, di era digitalisasi abad ke-21 ini, keberlimpahan informasi yang hanya berada setebal genggaman, anak-anak kita justru terjebak dalam “kelumpuhan” mendadak saat dihadapkan dalam kendala teknis sederhana. Salah satu praktik yang dilakukan penulis di suatu kelas, penulis pernah melakukan penyiapan sosial emosional murid sebelum pembelajaran inti dimulai dengan membawa sebuah botol air mineral, kemudian meminta murid menuliskan di selembar kertas jawaban dari pertanyaan berikut, “apa saja yang dapat kalian tuliskan sesuai hasil pengamatan terhadap objek yang Bapak letakkan di atas meja ini?”. Di beberapa detik awal, mereka terlihat kebingungan dan saling memandang satu sama lain. Kemudian instruksi diucapkan kembali dengan menambah penekanan kata “apapun” boleh dituliskan sesuai dengan pemahaman masing-masing. Hasilnya cukup unik. Sebanyak 4 dari 10 murid mengalami kesulitan mendeskripsikan secara spesifik objek pengamatan.
Selanjutnya penulis meminta murid untuk membuat pertanyaan apa saja yang dapat disusun dari objek yang sedang diamati. Hasilnya makin menarik. Sebanyak 9 dari 10 murid membuat pertanyaan yang jawabannya dapat ditemukan langsung dari objek, sedangkan 1 lainnya membuat pertanyaan yang jawabannya harus dilakukan analisis secara mendalam. Salah satu pertanyaan yang disusun murid adalah “apakah plastik di setiap botol minuman terbuat dari bahan plastik yang sama?”.
Voilaaa..
Seperti yang Bapak/ Ibu bayangkan. Kelas mendadak riuh setelah murid membacakan pertanyaannya tadi. Teman sekelasnya menimpali dengan aneka jawaban.
“Ya sama saja, namanya juga plastik”
“Tergantung warnanya, yang harganya mahal plastiknya juga mahal”, dan aneka respon lainnya.
Aneka jawaban yang diberikan dengan percaya diri tersebut ternyata justru menunjukkan bahwa murid cenderung meminta solusi instan akibat terbiasa disediakan informasi cepat tanpa mereka minta. Kemampuan menyaring informasi yang benar, akurat, serta dapat dipertanggungjawabkan mulai pudar seiring berkembangnya teknologi informasi. Ketika murid dihadapkan pada sumber belajar, alat, bahan, atau instruksi baku yang tidak tersedia secara instan di depan mata, refleks pertama mereka bukanlah mencari jalan keluar kreatif, melainkan menjawab seadanya, berhenti, menyerah, dan atau menunggu disuapi jawaban oleh guru. Fenomena ini mengindikasikan satu hal fundamental bahwa kelas-kelas kita saat ini sedang mengalami krisis sikap resourcefulness, yaitu sebuah kecakapan kritis untuk memanfaatkan sumber daya apa pun yang ada demi memecahkan masalah. Anak-anak kita bisa jadi pintar dan mahir mengoperasikan gawai, tetapi mereka belum tentu memiliki daya guna dan daya tahan ketika berhadapan dengan beberapa keterbatasan di dunia nyata. Padahal, bila kita melihat kenyataan kehidupan di luar sekolah, tidak pernah ada masalah yang langsung lengkap tersedia petunjuk penggunaan atau tata cara penyelesaian seperti halnya dicontohkan pada buku teks pelajaran. Pendidikan yang hanya berfokus pada hafalan dan mengandalkan ketersediaan prosedur tanpa melatih kemandirian dan daya tahan dalam pemecahan masalah hanya akan melahirkan calon anggota masyarakat yang kikuk dan gagap mengelola tantangan.
Apabila dirunut secara holistik, efek di atas dapat diantisipasi dengan desain pembelajaran, program kokurikuler, hingga program sekolah yang senantiasa menjadi bahan tabur ide kepada murid untuk mendayagunakan seluruh potensi diri dan sekitar untuk menciptakan solusi-solusi akan segala keingintahuan yang ingin mereka tekuni. Bila hendak memulai, solusi tersebut dapat dimulai dari ruang kelas kita sendiri, yaitu dengan mentransformasi pembelajaran melalui integrasi Pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning Approach).
Pembelajaran Mendalam merupakan pendekatan yang memuliakan dengan menekankan pada penciptaan suasana belajar dan proses pembelajaran yang berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful) melalui olah pikir (intelektual), olah hati (etika), olah rasa (estetika), dan olah raga (kinestetik) secara holistik terpadu. Pendekatan ini mendorong murid tidak hanya sekadar menghafal materi, tetapi juga memahami secara mendalam, menghubungkan antar konsep, dan menerapkannya dalam konteks yang berbeda. Pembelajaran Mendalam bertujuan untuk mewujudkan profil lulusan dengan delapan dimensi profil lulusan, yaitu keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan YME, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi. Melalui integrasi tema kontekstual (tematik) dan pemberian ruang eksplorasi yang lebih luas dan integratif antar topik pembelajaran, pembelajaran tematik dapat diubah dari sekadar rutinitas transfer pengetahuan menjadi "laboratorium kehidupan" tempat murid belajar berdaya dari hal-hal paling sederhana.
PEMBAHASAN
Kecakapan Resourcefulnes dan Pembelajaran Mendalam
Sebelum melangkah lebih jauh pada ranah praktik di kelas, penting bagi kita untuk menyamakan persepsi mengenai konsep kecakapan resourcefulness. Menurut Profesor Guy Claxton dan timnya dalam buku The Learning Powered School menyatakan kata kunci dari resourcefulness adalah siap, rela, dan mampu belajar dengan berbagai macam cara. Ada lima dimensi yang berkaitan dengan kecakapan resourcefulness yaitu curiousity, making links, imagination, reasoning, dan capitalising.
Di sisi lain, dengan implementasi pendekatan pembelajaran mendalam, memiliki tujuan untuk mendorong murid memahami esensi materi hingga mampu mengaplikasikannya dalam situasi baru yang kompleks. Ketika pembelajaran tematik dikemas dengan prinsip deep learning, setiap tema misalnya kelangkaan air bersih, penyebaran virus scabies, dan teknik budidaya ikan konsumsi, tidak lagi dipelajari secara terpisah-pisah, melainkan dihubungkan langsung dengan realitas kehidupan sehari-hari murid.
Desain pembelajaran tematik berbasis deep learning
Pengamatan ini dilakukan pada kelas model jenjang kelas X, XI, dan XII di SMA Insan Cendekia Mandiri Boarding School Sidoarjo pada semester ganjil tahun ajaran 2025/2026. Pembelajaran dirancang dalam 3 tahapan: pra-pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan refleksi pembelajaran. Pada tahapan pra-pembelajaran, murid dan fasilitator bersama-sama mendesain pembelajaran. Dimulai dengan murid mengajukan topik pembelajaran yang diminati. Topik bersifat kontekstual, dapat pula dikorelasikan dengan capaian pembelajaran yang telah disediakan pemerintah pada mata pelajaran, atau bebas sesuai minat murid. Guru di kelas diberikan gelar guru fasilitator tematik. Dimana disaat yang bersamaan beliau juga bertindak sebagai ketua penelitian/penyelidikan tiap topik.
Topik pembahasan yang diajukan murid dikumpulkan melalui penyusunan pertanyaan penting masing-masing murid. Batasan topik diberikan terlebih dahulu misalkan hendak membahas tentang tema biotik, abiotik, sosial-budaya, dan humaniora. Dari sini setelah topik utama terpilih, pengolahan sampah di lingkungan asrama sekolah, misalnya, kemudian setiap murid menentukan permasalahan apa yang berkaitan dengan topik tersebut yang nantinya akan mereka kaji lebih dalam. Tentu saja akan ada beberapa pertanyaan yang serupa, serumpun atau bahkan sama. Maka, salah satu tugas dari fasilitator adalah membuat filter dan pengelompokkan pertanyaan yang nantinya hasil dari fileter dan pengelompokkan ini akan menjadi satu tim penelitian. Selanjutnya, guru melakukan promosi topik dengan bersama murid melihat fakta-fakta, jurnal, artikel, berita, video liputan, maupun sumber informasi lain berkaitan dengan topik.
Selanjutnya, murid bersama dengan fasilitator membuat timeline kegiatan penyelidikan topik serta menentukan sumber belajar yang relevan dengan topik yang akan dikaji. Disinilah kecakapan resourcefulness dimainkan. Pada tahap pelaksanaan pembelajaran, melalui pendampingan fasilitator, murid tidak hanya menggunakan artikel internet sebagai sumber belajar, tetapi juga melakukan kunjungan ke situs pengolahan sampah, mendatangkan penggerak lingkungan di sekitar sekolah, hingga melakukan studi literatur sebagai pemerkaya hasil kajian topik yang dimaksud. Setelah topik dikaji secara mendalam serta mendapatkan hasil yang sesuai dengan indikator ketercapaian yang telah ditentukan oleh masing-masing kelompok, tiap kelompok akan mempresentasikan hasil kajiannya. Hasil masing-masing kelompok akan direfleksikan bersama seluruh murid apa yang sudah berjalan dengan baik, yang belum berjalan dengan baik, serta strategi selanjutnya agar hambatan yang lalu timbul dapat mendapatkan solusi terbaik. Tahap selanjutnya, guru bersama murid mendesain kembali pembelajaran selanjutnya seperti siklus yang telah dilakukan sebelumnya dengan topik-topik peminatan lainnya.
Temuan Penelitian dan analisis data
Berdasarkan observasi terstruktur, penilaian kinerja, dan wawancara mendalam dengan murid dan fasilitator pembelajaran tematik yang dilakukan selama tiga siklus pembelajaran tematik, terjadi transformasi perilaku belajar murid yang sangat signifikan. Indikator kecakapan resourcefulness diukur untuk kelima dimensi: curiousity, making links, imagination, reasoning, dan capitalising.
Berikut adalah data profil murid berdasarkan skor indikator kecakapan resourcefulness murid sebelum dan sesudah implementasi pendekatan pembelajaran mendalam. Analisis hasil angket refleksi yang diberikan kepada murid pada kelas model dan guru fasilitator di kelas model pada pembelajaran tematik, terlihat bahwa pertanyaan “Saya mampu mencari informasi tambahan sendiri ketika menghadapi topik tematik yang sulit” dan “Saya membayangkan berbagai kemungkinan hasil sebelum memulai proyek tematik” memiliki konsistensi standar deviasi tinggi. Hal ini menunjukkan data yang diambil adalah berkategori variasi tinggi dan heterogen. Sedangkan pada pertanyaan “Saya melihatkan peningkatan kemampuan murid dalam memecahkan masalah nyata melalui pendekatan tematik” dan “Murid sering melakukan refleksi atau bertanya kepada orang lain untuk memahami lebih dalam tentang tema pembelajaran” memiliki standar deviasi bernilai 0,0. Sehingga pada pertanyaan refleksi tersebut variasinya rendah. Dengan skor rata-rata 4, menandakan optimisme pengajar bahwa komponen indikator reasoning dan Questioning murid dalam kategori tinggi. Indikator resourcefulness menunjukkan skor dengan kategori tinggi pada aspek Capitalising, Questioning, dan Making Links. Sedangkan pada indikator Imagining terukur pada kategori sedang, serta pada indikator reasoning terukur rendah. Secara rinci, diagram peningkatan kecakapan memanfaatkan sumber daya belajar murid dalam implementasi pembelajaran mendalam pada mapel tematik pada kelas model adalah sebagai berikut.
Gambar 1 Diagram peningkatan pada indikator resourcefulness murid kelas model
Pada Gambar 1 tersebut menunjukkan hasil peningkatan pada indikator resourcefulness murid pada kelas model sebanyak 29,2% atau dalam hal ini hasil interpretasi tinggi, sebanyak 54,2% dalam interpretasi sedang, dan sebanyak 16,7% dalam interpretasi rendah. Pada indikator reasoning menunjukkan nilai terendah di pertanyaan “Saya merasa percaya diri dalam memecahkan masalah nyata yang terkait dengan tema pembelajaran” menurut refleksi murid. Artinya kemampuan murid untuk berpikir secara logis untuk menyelesaikan isu tematik secara metodis masih pada kategori interpretasi rendah. Hal ini senada dengan sudut pandang para guru pada murid kelas model.
Pada keterlaksanaan seluruh program, diadakan monev kepada fasilitator guru tematik di tiap kelas. Hasil dari monev tersebut adalah sebagai berikut.
Gambar 2. Diagram interpretasi pelaksanaan program fasilitator
Pada diagram Gambar 2 tersebut menunjukkan keterlaksanaan program peningkatan kecakapan memanfaatkan sumber daya belajar (Resourcefulness) murid dalam implementasi pendekatan pembelajaran mendalam pada pembelajaran tematik berada dalam interpretasi baik sebanyak 57,1% dari fasilitator melaksanakan fasilitasi program dalam kelas dengan poin keterlaksanaan program rata-rata sebesar 81,67% dan interpretasi excelence sebanyak 42,9% dari fasilitator melaksanakan fasilitisi program dalam kelas dengan poin keterlaksanaan program rata-rata sebesar 68,75%. Secara keseluruhan pelaksanaan program memiliki dampak positif dalam upaya peningkatan kecakapan memanfaatkan sumber daya belajar (resourcefulness) murid kelas model. Perlu adanya intervensi kepada seluruh kelas dan kemudian diukur kembali keterlaksanaan dan ketercapaian program. Indikator reasoning perlu dijadikan perhatian pada siklus program selanjutnya dengan tetap mempertahankan indikator lainnya dengan memperbanyak inspirasi jenis-jenis sumber belajar yang relevan.
Dinamika menarik terlihat selama proses pembelajaran berlangsung. Pada tahap pelaksanaan pembelajaran, saat terdapat kelompok mendapati bahwa ternyata pada topik Pengelolaan Sampah Anorganik, ada satu kelompok siswa yang memilih fokus mengolah limbah sampah plastik menjadi paving blok. Namun di tengah proses, setelah melakukan riset dan beberapa kali percobaan mandiri, hasil paving blok berbahan plastik yang mereka buat ternyata belum maksimal kekuatan dan kualitasnya. Mereka bertanya kepada guru fasilitator. Namun, guru tidak langsung memberikan jawaban, melainkan bertanya balik: “informasi pembuatan paving blok ini kamu temukan dimana?” mereka menjawab dari sebuah jurnal yang mereka baca di internet. Setelah berdiskusi, kelompok tersebut memutuskan untuk memanfaatkan sumber belajar berupa ‘bertanya kepada ahli’ dalam hal ini adalah pemilik jurnal. Berpatokan pada email penulis yang tertera di artikel mengenai paving block. Murid secara mandiri menghubungi penulis guna berkonsultasi mengenai kendala yang mereka hadapi. Hingga akhirnya mereka mengetahui adanya bahan tambahan lain yang dibutuhkan agar paving blok dapat terbentuk lebih baik. Murid menyadari bahwa bahkan sumber internet bukanlah sumber langsung jadi, mereka harus mengonfirmasi hingga ke sumber autentiknya, yaitu penulis jurnal. Kesulitan dan kegagalan bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal dari proses berpikir kreatif.
PENUTUP
Menumbuhkan kecakapan resourcefulness pada murid bukanlah proses instan seperti membalikkan telapak tangan. Ia membutuhkan keberanian dari kita, para pendidik sekaligus fasilitator pembelajaran, untuk menciptakan pembelajaran yang dipenuhi rasa rileks serta percaya diri untuk melepaskan kendali penuh di dalam kelas kepada para murid, mengurangi kebiasaan "menyuapi" jawaban, dan bersedia memberikan kepercayaan serta ruang eksperimen yang luas bagi murid dalam rangka mewujudkan pembelajaran yang menyenangkan, berkesadaran, dan bermakna bagi kehidupannya di luar kelas.
Melalui implementasi Pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) dalam pembelajaran tematik, kita telah menyaksikan bagaimana keterbatasan belajar berupa media, alat, dan sumber belajar dalam lingkup sekolah berasrama justru berubah menjadi pemantik kreativitas yang sangat ampuh. Murid belajar bahwa tantangan bukanlah tembok penghalang, melainkan pintu gerbang menuju pemecahan masalah yang inovatif.
Sebagai penutup, pembelajaran terbaik bukanlah pembelajaran yang menyediakan seluruh fasilitas secara sempurna hingga murid tinggal mengonsumsinya. Pembelajaran terbaik adalah pembelajaran yang mampu memantik kecakapan resorcefulness dalam diri murid, sehingga di mana pun mereka ditempatkan, dengan sumber belajar dan fasilitas selengkap apa pun atau terbatas seadany, mereka akan selalu mampu bertahan dan berdaya. Mari kita ubah ruang-ruang kelas kita dari awalnya adalah tempat mengucurkan pengetahuan menjadi arena pembentukan pribadi tangguh yang resourceful. Sebab, murid-murid yang siap, rela, dan mampu hari ini adalah para pemecah masalah bangsa di masa depan.
DAFTAR PUSTAKA
Claxton, G., Chambers, L., Powell, G., & Lucas, B. (2011). The learning powered school: Pioneering 21st century education. TKO Press.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2025). Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2025 tentang Pedoman Pembelajaran dan Asesmen pada Pendidikan Menengah. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
